Profil Proyek Stratetegis Nasional Sektor Hulu Minyak dan Gas

Presiden joko Widodo menetapkan ada lima proyek strategis nasional di sektor hulu minyak dan gas melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 58 tahun 2017. Proyek strategis nasional ini nantinya anggaran yang digunakan tidak bersumber dari anggaran pemerintah sehingga proyek-proyek ini di bawah koordinasi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Berikut ini profil dari lima proyek strategis nasional sektor hulu minyak dan gas.

  1. Lapangan Jangkrik

Produksi minyak dan gas di lapngan Jangkrik menggunakan fasilitas pemrosesan  migas terapung (Floating Processing Unit/FLU). Eni Muara bakau BV merupakan operator yang ditunjuk untuk mengelola pemrosesan minyak dan gas di lapangan Jangkrik. Proyek ini selesai di bangun dalam waktu kurang dari 4 tahun dan menghemat biaya pembangunan hingga US$ 400 juta. Lapngan jangkrik berada di perairan laut dalam Selat Makassar. Lapangan jangkrik memiliki 10 sumur pengeboran yang terhubung dengan FLU yang mampu menghasilkan minyak 100.000 barel/hari. Lapangan Jangkrik mampu menyerap kurang lebih 1.000 tenaga kerja yang 94% diantaranya adalah tenaga kerja lokal.

  1. Indonesia Deepwater Development

Proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) mencakup pengembangan lima lapangan laut dalam, yaitu Bangka, Gehem, Gendalo, Maha, dan Gadang. Lima lapangan ini berada di laut dalam Selat Makassar. Dari lima lapangan tersebut, Lapangan Bangka sudah mulai berproduksi sejak Agustus 2017 dengan produksi sebesar 100 MMSCFD gas dan 4.000 BCPD kondensat. Lapangan Bangka dioperasikan oleh Kontraktor KKS Chevron Rapak Ltd. Fasilitas produksi Lapangan Bangka terdiri atas dua sumur bawah laut yang terhubung ke unit produksi terapung yang sudah beroperasi, yaitu West Seno, yang dimodifikasi untuk menyalurkan produksi ke terminal Santan dan Bontang. Gas dari lapangan ini disalurkan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

  1. Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru

Lapangan Gas Jambatan tiung Biru berada di Bojonegoro, Jawa Timur. Lapangan gas ini diprediksi mampu menghasilkan gas sebanyak 330 juta kubik perhari. Gas yang dihasilkan diperuntukkan ke Pertamina yang kemudian didistribusikan untuk kebutuhan listrik di Jawa timur dan Jawa Tengah Nilai Investasi yang diberikan sebesar US$1,5 Miliar. Proyek lapangan gas ini mampu menyerap 6.000 tenaga kerja lokal. Pada awalnya lapangan gas Jambaran Tiung Biru ini adalah milik Exxon Mobil yang kemudian diakuisisi hak partisipasinya oleh PT. Pertamina (Persero).

  1. Proyek Tangguh LNG Train 3

Proyek Tangguh LNG Train 3 ini adalah proyek pembangunan kliang gas alam cair (LNG) yang berada di Teluk Bintani, Papua Barat. Proyek yang memiliki nilai inestasi jumbo ini (US$ 8 miliar) ini dioperasikan oleh BP Berau Ltd. Proyek ini diprediksi memiliki kapasitas penampungan sebesar 3,8 juta ton. Proyek ini juga diprediksi mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar, kurang lebih 8.000 tenaga kerja. BP Tangguh mengalokasikan 75% hasil produksi LNG di proyek ini akan didistribusikan ke PT PLN (Persero) yang diprediksi mampu menghasilkan energi listrik sebesar 3.000 Megawatt.

  1. Lapangan Abadi

Lapangan Abadi merupakan salah satu bagian dari Blok Masela yang berada di laut Arafuru. Inpex Masela Ltd adalah operator yang bertanggung jawab atas pengembangan lapangan abadi. Proyek ini diharapkan mampu mendukung program pengembangan sumber daya energi yang ditargetkan tercapai di tahun 2020 oleh pemerintah Indonesia.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.